HARI itu langit mulai menghitam saat aku memutuskan berbagi cerita dengan sahabatku. Tidak ada lagi nada-nada ceria bahkan alampun sepertinya memihak pada kesedihan dengan mengirimkan tetes-tetes hujan di antara linangan air mataku.
Malam itu sungguh kelabu, aku tidak bisa lagi mencari pembenaran atas apa yang telah aku lakukan dengan segala akibatnya yang kini tampak dekat di pelupuk mata. Aku hanya bisa meratapi kejadian siang tadi, waktu dimana handphoneku berbunyi dan suara lelaki yang kugantungkan harapan besar kepadanya memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Ya, lelaki itu memilih kembali kepada kekasihnya yang padahal menurutnya tidak bisa memberikan apa yang dia mau.
Semuanya terjadi begitu cepat padahal aku beru saja menjalin hubungan dengan teman semasa SMPku. Hubungan yang baru seumur jagung itu terpaksa aku korbankan untuk pria yang statusnya tidak single lagi itu. Berat memang, namun inilah keputusan yang aku yakini yang pada akhirnya malah membuat runyam kisah percintaan dalam hidupku padahal teman semasaku SMPku ini adalah oaring yang baik dan tidak macam-macam. Kami bertemu sewaktu reuni dan mulai saat itu komunikasi terus terjalin hingga kami memutuskan untuk memiliki status ''pacaran''.
Kini mantan pacarku yang seumur jagung ini sepertinya masih memendam kekesalan karena keputusan sepihakku. Aku bisa melihatnya ketika belum lama ini teman-teman lamaku berkumpul di sebuah tempat karaoke. Sikapnya sangat dingin dan tatapan matanya tidak pernah tertuju ke arahku. Inilah kenyataan yang harus kuterima kembali setelah sebelumnya dan hingga kini aku masih dijauhi oleh seseorang yang sangat aku sukai selama 5 tahun belakangan ini.
Seseorang yang mendapatkan tempat lebih dihatiku ini merupakan saudara jauh dari keluarga ibuku yang tinggal di Bandung. Mungkin ini bisa dibilang cintaku sebenarnya meskipun ia tidak kunjung memberika status yang jelas akan hubungan yang telah tarjalin. Disaat akhirnya ia bisa memberikan kejelasan status, aku sudah terlanjur membuka kepada teman SMPku. Perasaan terombang-ambing tanpa kejelasan status membuatku berpikir ulang untuk kembali kepadanya.
Keputusanku yang tidak ingin membangun sebuah hubungan, membuat pria yang merupakan saudara jauhku ini merasa kecewa. Sepertinya dia tidak pernah menyangka jika aku akan menolaknya. Kini hubunganku denganya menjadi renggang. Setelah keputusanku itu, serta-merta ia-pun kembali ke rumahnya di daerah Bandung.
Kini tak pernah lagi kuterima sms lucu ataupun kata-kata perhatian yang biasa ia kirimkan setiap malam ataupun yang mengisi hari-hari disaat aku sedang bekerja. Bukan hanya dari dia tapi juga dari seorang teman SMPku dan seseorang yang telah mempunyai kekasih. Kini semua beban berat ini harus aku pikul namun genggaman erat tangan sahabatku yang setia mendengarkan keluh kesahku setidaknya bisa mencairkan suasana buruk dalam hatiku. (*/OL-08)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar