Kamis, 28 Januari 2010

Eksistensi Geisha di Jepang Terancam Punah

Sebagai geisha tertua di Jepang, Kokin, yang kini berusia 98 tahun mengaku sedih melihat kenyataan sekarang ini. Pasalnya, semakin hari jumlah geisha semakin sedikit. Budaya adalah jati diri bangsa. Demikian orang bijak berkata. Sebagai seorang budayawan sejati, Kokin, sedih melihat perubahan zaman saat ini.
Betapa tidak, akibat modernisasi, geisha di Jepang kini tengah dalam ancaman kepunahan. Hal ini dilihat dari jumlah geishayang ada sekarang ini. Menurut data pemerintah Jepang, jumlah geisha saat ini hanya sekitar 1.000 orang.Angka ini jauh di bawah jumlah geisha pada 1928 yang mencapai 80.000 orang.
Selain masalah modernisasi, ada satu hal lain yang menurut Kokin akan mempercepat punahnya geisha. Hal tersebut tak lain adalah faktor ekonomi. Banyak warga Jepang yang lebih senang membelanjakan uangnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari ketimbang diberikan kepada geisha.
Mahalnya honor geisha menjadi momok tersendiri bagi warga Jepang untuk menikmati jasa mereka. Bayangkan saja, untuk sekali makan malam bersama geisha,setiap orang harus bersedia merogoh kocek hingga USD730.
Geisha adalah penghibur wanita di Jepang yang mempunyai sejumlah keahlian seperti menyanyi tradisional, memainkan musik tradisional, dan berkomunikasi secara baik dan menghibur. Geisha diyakini ada sejak periode Edo yaitu sekitar 1603-1867.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar